Haloooo Smaders!
Perkenalkan aku Kevin Fauzan Arjuna, alumni SMAN 2 Madiun yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia jurusan Sistem Informasi.
Ceritaku di PCC sebenarnya bermula dari hal yang cukup sederhana, yaitu hobi nonton, terutama film animasi Jepang. Kalau ditanya kenapa film, sejujurnya ngga ada jawaban yang khusus selain karena aku memang suka. Lewat sebuah film, aku merasa bisa terhubung dengan banyak orang, meski kita ngga saling kenal. Dari sekadar penikmat, film perlahan membawaku terjun lebih dalam ke balik layar produksi film.
Fun fact, karya pertamaku adalah sebuah film pendek yang bisa dibilang modal nekat untuk lomba ICT Festival 2020. Waktu itu, aku yang masih SMP belajar dari nol tentang produksi film. Ngga paham angle kamera, ngga ngerti tata cahaya, apalagi urusan editing yang rumit. Semuanya murni learning by doing berbekal tekad buat nyoba. Tapi beruntungnya, kerja keras itu terbayarkan dengan keluarnya film itu sebagai Juara 1 Film Terbaik kategori SMP. Momen itulah yang menjadi titik balikku untuk terjun lebih dalam pada dunia sinematografi. Rasanya seperti menemukan passion baru yang bikin aku pengen terus bikin karya.
Lulus SMP dan diterima di SMADA, aku sudah punya target masuk PCC. Bagiku, PCC adalah wadah yang paling tepat untuk menyalurkan apa yang sudah aku mulai. Sembari mencari pengalaman kepemimpinan di OSIS, aku terus memperdalam ilmu produksi film dan perlahan merambah ke bidang kreatif lain. Di tahun pertama, alhamdulillah aku dan teman-teman PCC berhasil menorehkan prestasi, seperti Juara 1 Film Pendek Anti Korupsi Universitas Merdeka Madiun, dan Juara 2 Film Pendek Ekonomi Kreatif STIE Surakarta.
Khusus untuk produksi di STIE Surakarta, itu adalah pengalaman yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, hampir seluruh anggota PCC Gen 18 bekerja sama penuh memproduksi satu film pendek berdurasi 20 menit durasi yang lumayan menantang untuk produksi anak SMA. Sebagai sutradara, aku bener-bener belajar banyak. Di proyek inilah aku sadar bahwa lewat PCC, aku bisa terkoneksi dengan begitu banyak kepala. Ini bukan lagi soal siapa yang memimpin jalannya syuting atau siapa yang paling jago pegang kamera, tapi tentang bagaimana sebuah karya bisa menyatukan ego dan isi kepala semua orang. Mulai dari beda pendapat saat penulisan cerita, mendalami penokohan, proses shooting yang sering kejar-kejaran sama waktu, hingga begadang di proses editing, semuanya bergerak dengan satu visi yang sama, ingin membuat karya yang berkesan.
Memasuki tahun kedua dan ketiga SMA, tanggung jawab yang aku pegang semakin besar. Dengan segala upaya dan kerja keras, aku dipercaya menjadi Ketua PCC Gen 18 sekaligus mengemban amanah sebagai Ketua Bidang 9 OSIS. Menggabungkan dunia kreatif di PCC dengan kehidupan organisasi di OSIS menjadi satu kesatuan tantangan yang ngga lepas dari keseharian SMA. Rasanya capek, pasti. Tapi di situlah mental dan kemampuanku mengatur banyak hal benar-benar dilatih.
Di bawah kepengurusan Gen 18, kami meluncurkan berbagai program kerja yang fokus pada pengembangan skill bareng-bareng. Salah satunya adalah Summer Camp. Di acara ini, seluruh anggota Gen 18 dan 19 berkumpul dan dilatih langsung oleh tentor sebaya. Teman-teman yang punya skill lebih di bidang sinematografi, fotografi, desain grafis, hardware, hingga kelas peran, secara bergantian menyalurkan ilmunya. Belajarnya ngga kaku, tapi justru seru banget karena yang ngajar adalah teman sendiri. Lalu, ada juga program kunjungan ke ISI Yogyakarta. Program ini sengaja kami buka ngga cuma buat anak PCC, tapi untuk seluruh siswa SMADA yang berminat di bidang kreatif. Berkunjung di salah satu institut seni paling bergengsi di Indonesia dan mendapat ilmu langsung dari para ahlinya benar-benar membuka mata dan imajinasi kami tentang luasnya dunia kreatif.
Dan tentu saja, puncaknya adalah program kerja yang paling menguras energi tapi paling membanggakan, ICT Festival 2024. Event ini adalah salah satu rangkaian HUT SMADA terbesar kala itu. Kami ngga sekadar bikin acara internal, tapi berani membuka berbagai cabang lomba untuk tingkat SD, SMP, dan SMA se-Karesidenan Madiun, sekaligus menggabungkannya dengan gelar karya P5 untuk kelas 12. Mengoordinasikan acara sebesar itu butuh tenaga besar. Dari mikirin konsep, technical meeting, sampai troubleshooting masalah di lapangan. Itu adalah rangkaian event yang sangat panjang dan melelahkan, tapi itu jadi salah satu memori paling berkesan dalam masa SMA.
Dewasa ini aku semakin sadar bahwa bagiku PCC bukan sekadar ekstrakurikuler. PCC adalah rumah kreatif. Tempat di mana berbagai imajinasi, impian, visi, dan misi diwujudkan secara nyata. Di PCC, ngga peduli siapa yang paling hebat atau paling jago, kita belajar dan jatuh-bangun bareng. Ngga ada organisasi yang berjalan mulus tanpa gesekan. Tapi justru dari setiap masalah dan adu emosi itulah, PCC selalu berhasil menemukan cara untuk bangkit di setiap siklus.
PCC memberikan pengaruh yang sangat besar dalam membentuk diriku sekarang yang penuh imajinasi dan impian. Di sinilah tempatku mewujudkan itu semua satu per satu bersama teman-teman. Meski ngga selalu sempurna, meski di tengah jalan sering mikir "kayaknya bisa deh dibikin lebih bagus lagi", tapi ya itulah prosesnya. Bersama keluarga PCC, aku berbenturan dengan teman-teman lain, kami pernah marah karena beda pendapat, susah saat dikejar deadline, hingga akhirnya tersenyum senang dan sedih terharu saat melihat karya kami ditonton banyak orang. Semua rasa itu kami lalui bersama.
Sampai hari ini, meskipun langkahku sudah membawaku ke Fakultas Ilmu Komputer UI, pondasi berpikir kreatif dan problem-solving yang aku pelajari di PCC terus kepakai di kehidupanku sekarang. Memilih masuk PCC adalah salah satu keputusan terbaik yang ngga akan pernah aku sesali. Menemukan orang-orang yang memiliki harapan yang sama, meski dengan minat teknis yang berbeda-beda, justru membuat kami jadi saling melengkapi. Dari sinilah lahir karya-karya yang tidak hanya estetik, tapi juga punya jiwa untuk menghubungkan banyak orang di baliknya.
Sebagai alumni, aku senang melihat PCC masih terus konsisten merawat tali silaturahmi. Setiap tahunnya, selalu ada ruang di mana lintas generasi dipertemukan untuk berbagi cerita demi membangun PCC yang jauh lebih baik lagi.
Sukses terus untuk PCC! Buat teman-teman dan adik-adik kreatif PCC lainnya, semangat terus belajarnya, jangan pernah takut untuk bereksplorasi, dan pastinya ditunggu karya-karya hebat kalian selanjutnya!

EmoticonEmoticon