10 Jun 2026

Jejak Alumni PCC : Rahardhian Putra Pramana

Kisah Rahardhian Menembus Batas Keterbatasan: Berawal Tanpa Alat, Berakhir Jadi Penggerak

Bagi saya, keterbatasan bukanlah sebuah jalan buntu, melainkan kanvas kosong tempat kegigihan sejati diuji. Mengingat kembali masa-masa berseragam putih abu-abu di lorong SMAN 2 Madiun, saya memulai perjalanan ini dengan sebuah tantangan besar, memiliki mimpi yang melangit untuk berkembang, namun terhalang oleh ketiadaan perangkat pribadi yang memadai. Saat teman-teman sebaya bisa dengan leluasa mengeksplorasi dunia digital melalui laptop di rumah, saya harus memutar otak mencari jalan keluar. Di titik krusial inilah Personal Computer and Cinemathografi (PCC) Smada hadir, bukan sekadar sebagai wadah ekstrakurikuler, melainkan sebagai "rumah kedua" sekaligus laboratorium harapan. Saya bertekad membuktikan bahwa ketiadaan fasilitas pribadi tidak akan mematikan produktivitas, melainkan justru memicu insting saya untuk terus melakukan upgrade diri secara maksimal.

Masa-masa di ruang komputer sekolah menjadi saksi bisu bagaimana determinasi saya perlahan mengalahkan minimnya privilese. Tanpa gawai mumpuni di tangan, saya mengubah fasilitas PCC menjadi ruang tempaan mental dan skill yang tak ternilai harganya. Setiap detik yang saya habiskan untuk tetap belajat teknologi digital adalah investasi berharga untuk masa depan. Di ruangan itu, saya belajar merajut kemampuan problem-solving, mendalami literasi digital, dan membiasakan diri bekerja efisien di bawah tekanan waktu serta fasilitas yang terbatas. Tanpa saya sadari, etos kerja pantang menyerah ini diam-diam membentuk karakter saya menjadi jauh lebih tangguh, menanamkan mentalitas "produktif menembus batas" yang kelak membawa langkah saya melesat jauh melewati gerbang sekolah.


Ketekunan yang saya tempa di balik meja lab PCC itu akhirnya berbuah manis ketika saya berhasil menembus ketatnya persaingan menuju kampus biru, Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya mengambil langkah berani dengan memilih program studi Ilmu Politik dan Pemerintahan, sebuah jalan yang sekilas terasa melenceng dari akar teknologi yang saya pelajari di PCC. Namun, di sinilah letak keajaiban perjalanan ini. Struktur berpikir sistematis, kemampuan analitis, dan kepekaan terhadap data yang saya asah selama mengutak-atik teknologi di Smada ternyata menjadi pisau bedah yang tajam dalam menganalisis dinamika sosial, kekuasaan, dan kebijakan publik. Transformasi ini menyadarkan saya bahwa ilmu dari PCC tidak pernah mengotakkan kita, melainkan mencetak pemikir kritis yang siap beradaptasi di segala medan.


Di bangku perkuliahan, semangat untuk terus melakukan upgrade diri semakin menyala terang lewat kontribusi akademis yang nyata. Salah satu momen paling membanggakan adalah keberhasilan menembus Pekan Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) di tingkat nasional. Bersama tim, saya meneliti masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, membedah bagaimana masyarakat tradisional mampu berdaulat dan mengelola teknologi modern seperti membangun jaringan internet Wi-Fi mandiri dan saluran televisi lokal CIGA TV untuk melestarikan tradisi budaya mereka. Pemahaman dasar teknologi yang lahir dari  PCC berpadu sempurna dengan tajamnya analisis politik yang saya pelajari, menghasilkan riset yang mendobrak stigma bahwa masyarakat adat itu tertinggal.


Pengetahuan dan pengalaman yang saya kumpulkan ternyata tidak hanya berhenti di atas lembar kertas penelitian. Keberanian untuk mengartikulasikan gagasan yang benihnya mulai ditanam sejak saya terbiasa memecahkan masalah di PCC membawa saya menjelma menjadi pembicara di berbagai forum dan panggung kompetisi. Salah satu momen yang sangat berkesan adalah ketika saya diundang sebagai pemateri dalam Temu Ilmiah oleh Komunitas Prestasi Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga. Di hadapan para mahasiswa, saya membagikan gagasan tentang "Seni Kepemimpinan dan Menulis," membedah bagaimana seorang penulis yang gigih bisa mengambil peran kepemimpinan yang kuat. Melihat kembali jejak langkah ini, dari seorang siswa yang menumpang belajar di komputer lab Smada hingga berdiri membagikan ilmu di berbagai panggung, saya menyadari satu hal: keterbatasan di garis start tidak akan pernah bisa mendikte seberapa jauh, seberapa kuat, dan seberapa gemilang kita mampu menyentuh garis finish. Ketiadaan alat bukanlah alasan untuk menyerah pada mimpi.


Di sisi lain, PCC mengantarkanku untuk memahami manajemen hingga memiliki bisnis sewa drone, branding sendiri pecel mas rahar, dan masih berkontribusi untuk adik-adik PCC dalam edukasi teknologi dan manajemen bisnis, terima kasih PCC, Pak Toto, dan semua yang terlibat dalam perkembangan PCC. Jangan sungkan untuk kontak saya di instagram dengan nickname @rahardh untuk terus berkembang bersama.


EmoticonEmoticon